Aroma Buku

Ritual yang hampir pasti kulakukan sebelum membaca buku adalah menghirup aromanya.
***
Entah sejak kapan, aku begitu menyukai aroma buku. Aku juga tidak tahu, sebenarnya aroma itu berasal dari kertas atau tinta, atau campuran keduanya. Tetapi aku percaya, bahwa bersama aroma itu juga ada aroma ‘ruh’ buku.

Aku pernah mendapatkan banyak buku gratis dari penerbit. Buku-buku itu masih bersegel plastik. Ketika kubuka dan kuhirup aromanya, rasanya tidak nyaman. Aku hanya mengira, mungkin buku-buku tersebut adalah buku yang lama terasing di gudang. Mungkin itu buku returan, atau buku cadangan yang belum sempat diedarkan. Sepertinya buku-buku itu sudah tidak bernyawa. Yang tersisa hanyalah fisiknya. Buku mati.

Buku yang kusukai, yang sudah lama kukoleksi, walau sudah khatam kubaca dan terkadang masih kubaca lagi, aromanya masih asyik.
***
Tentang aroma buku, aku sempat terpikir untuk mencari parfum dengan aroma seperti itu. Tetapi aku tidak tahu bagaimana cara bertanya kepada penjualnya. Selain tidak tahu nama aroma tersebut, aku juga ragu kalau ada parfum dengan aroma seperti itu.

Teman

Buku adalah teman yang menyenangkan. Dia tidak pernah berbicara, kecuali aku memang sedang ingin mendengarnya.
***
Hakikat berteman dengan seseorang adalah berteman dengan pikirannya. Berteman dengan penulis atau hanya membaca bukunya, efeknya bisa sama.
Ketika berteman secara langsung, mungkin seseorang bisa tertular atau belajar dari perilakunya. Bukahkah itu tidak bisa didapatkan dari buku?
Bisa. Akar dari buku dan perilaku adalah sama, yaitu pikirannya.
***
Ketika menghadiri pameran buku, mengunjungi perpus atau main ke toko buku, aku sering tersenyum atau tertawa sendiri bila bertemu dengan buku yang pernah kumiliki, tetapi sudah pergi. Ya, rasanya seperti bertemu teman lama. Teman yang pernah menemani dalam banyak situasi.

Terima Kasih, Penulis

Ketika sebuah buku bermanfaat bagiku, aku berusaha berterima kasih kepada penulisnya. Bila tidak bisa bertemu, aku berterima kasih dalam do’a. Mendo’akan hal baik untuknya.

Walau sepertinya aku berbuat baik, yaitu berterima kasih dan ber’doa untuknya, tetapi hakikatnya aku berbuat baik untuk diriku sendiri. Apa pun yang dilakukan oleh diri, pasti kembali kepada diri sendiri. Semua kebaikan penulis yang kudapat dari bukunya, sudah pasti dibalas oleh semesta, tanpa aku perlu melakukan apa-apa.

Jawaban Tuhan

Dalam kehidupan yang terkadang membingungkan, aku sering bertanya kepada Tuhan, via do’a. Mengapa begini, mengapa begitu. Bagaimana cara menghadapi, bagaimana cara menyelesaikan sesuatu.

Aku sering mendapat jawaban dari Tuhan melalui buku. Tanpa sengaja. Bahkan ketika jawaban itu tiba, seringkali aku sudah lupa kalau pernah bertanya.

Membaca Berarti Membeli

Aku pernah melihat tulisan “pecah berarti membeli” di sebuah toko yang menjual barang pecah belah. Tentunya maksud dari tulisan itu adalah agar pengunjung lebih berhati-hati dengan barang-barang yang dijual di toko tersebut. Bila ada barang yang pecah karena kecerobohan pengunjung, berarti pengunjung itu harus bertanggung jawab dengan cara membeli barang yang sudah pecah itu, dengan harga sama seperti harga utuhnya.

Sekalipun aku tidak pernah menemukan tulisan “membaca berarti membeli” di semua toko buku yang kusinggahi, tetapi membaca buku di toko buku itu seperti perbuatan terlarang. Apalagi sampai membuka segel. Padahal, ada toko buku yang memang membolehkan pengunjung membaca buku di tokonya, tanpa harus membeli. Bahkan boleh membuka segelnya, bila buku yang ingin dibaca masih bersegel.

Toko buku yang membolehkan pengunjung membaca dan membuka segel itu adalah toko buku yang logonya berwarna hijau, dan populer dengan sebutan “toko buku diskon”. Mereka punya banyak cabang. Toko buku berjaring nasional.

Kebebasan membaca di toko buku diskon tersebut memang bagian dari strategi bisnisnya. Aku juga sudah menguji kebenaran “bebas baca dan buka segel” itu di beberapa cabang toko bukunya, di beberapa kota yang berbeda. Semua itu benar adanya. Bahkan, aku pernah ingin membaca satu buku yang masih bersegel dan stoknya tinggal satu-satunya. Pramuniaganya dengan senang hati membukakan segel buku itu dan mempersilahkan aku membacanya.
***
Info bebas baca dan buka segel di toko buku tersebut kudapat langsung dari founder sekaligus owner-nya, ketika kami santai ngopi, menjelang pagi, tahun 2012.

Semua sudah berlalu. Sekarang, sang founder itu sudah tiada. Apakah konsep itu masih berlaku atau tidak, aku tidak tahu.
***
Aku pernah memasang tulisan “Membaca bukan Berarti Membeli” di antara buku-buku yang kujual. Semua buku boleh dibaca oleh siapa pun. Sekalipun buku tersebut masih bersegel. Ketika mereka membeli, aku ingin mereka benar-benar tahu apa yang mereka beli. Aku tidak ingin mereka membeli buku seperti membeli kucing dalam karung.
***
Walau membaca di toko buku sepertinya gratis, tetapi sesungguhnya para pembaca itu membeli. Mereka membeli dengan keberaniannya, membeli dengan meluangkan waktunya, membeli dengan kerelaan membaca di tempat yang mungkin tidak nyaman.

Toko buku yang membolehkan pengunjung membaca, tanpa harus membeli, tidak akan pernah rugi. Kebahagiaan dan manfaat yang didapat oleh pembaca akan membuat tokonya lebih hidup, dan pemiliknya lebih bahagia.

Penyeru Baca Buku

Penyeru baca buku yang baik adalah orang yang netral terhadap buku. Bukan yang sangat suka, atau yang tidak suka. Kalau dia sangat suka, apa yang disampaikan akan cenderung melebih-lebihkan atau merendahkan orang yang tidak sepaham. Kalau dia tidak suka, seruannya mungkin benar, tetapi kurang bertenaga, rasanya hambar, karena dia sendiri tidak mengerjakannya.

Dulu, ketika bertemu dengan orang yang tidak suka baca buku, aku sering langsung menghakimi mereka, walau hanya dalam hati. Aku merasa perlu memperbaiki mereka. Padahal, alasan mereka tidak membaca memang lebih banyak daripada alasan untuk membaca.

Sekarang, aku berusaha tidak lagi menyarankan siapa pun secara langsung untuk membaca buku. Menyarankan orang lain tanpa diminta atau tanpa mengetahui latar belakangnya, bisa berarti diri ini menghakimi bahwa orang itu salah. Bahkan, mungkin menganggapnya bodoh, dan diri ini merasa pintar dan tercerahkan.

Menyarankan orang lain untuk membaca juga bukan berarti kebaikan. Mungkin saja tujuan diri menyarankan hanyalah untuk kepentingan diri sendiri. Agar dianggap pintar, ilmunya terlihat lebih tinggi atau diakui sebagai pahlawan literasi.

Menjual Buku

Menjual buku membuatku mengerti bagaimana seharusnya aku berperilaku ketika membeli buku.
***
Buku yang selesai dibaca, masih punya jalan cerita. Ada yang disimpan, dipinjam, disumbangkan, atau dijual. Mungkin bagi seorang kolektor buku, menjual buku adalah keterpaksaan. Tetapi bagi seorang pembaca buku, menjual buku bisa menjadi jalan lain untuk membaca buku lain. 

Menjual buku bagi pembaca atau kolektor buku adalah pengalaman yang perlu dicoba. Tetapi cukup sebagai hiburan saja. Sekadar mencoba sensasi menjadi penjual buku amatir. Hanya menikmati proses menjual buku dalam skala kecil.

Peran utama pembaca dan kolektor buku adalah bermain di alam konsumsi. Bukan di alam distribusi. Bila ingin menjual buku dalam skala besar, berarti harus berpindah alam. Dari alam konsumsi ke alam distribusi, tipe bisnis. Lain alam, lain aturan. Mereka harus mengubah pola pikir, dari konsumsi ke distribusi.
***
Ketika pertama terjun di bisnis buku, pola pikirku masih di alam konsumsi. Contohnya, pada saat belanja, buku-buku yang kubeli adalah buku yang kusukai, bukan buku yang banyak dicari atau yang diinginkan pembeli. Akhirnya, sakitnya tuh di sini.